detiksport/ M.Resha Pratama
Tahun 2010 boleh dibilang sebagai waktu di mana tuntutan reformasi PSSI bergaung cukup kencang. Semua berawal dari kegagalan Indonesia lolos ke Piala Asia 2011 usai dikalahkan Oman di Jakarta, Januari silam.
Selain kalah, laga itu juga diwarnai oleh masuknya seorang suporter yang bernama Hendri Mulyadi yang membuatnya menjadi ikon sepakbola nasional pada saat itu. Masuknya Hendri menjadi representasi ketidakpuasan masyarakat atas kinerja PSSI di bawah kepemimpinan Nurdin Halid.
Kurang lebih tiga bulan pasca kejadian Hendri Mulyadi tersebut, digelar Kongres Sepakbola Nasional (KSN) yang diawali dari pemikiran presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar persepakbolaan Indonesia jadi lebih baik. Namun pada akhirnya KSN berakhir antiklimaks karena kubu PSSI menang
Akhir tahun ini, euforia terhadap sepakbola Indonesia tengah terjadi, menyusul langkah timnas Indonesia di Piala AFF 2010, meski pada akhirnya harus puas menjadi juara kedua.
Selama gelaran Piala AFF, tidak jarang suporter Indonesia meneriakkan yel "Nurdin Turun" atau memasang spanduk-spanduk yang meminta ketua umum PSSI itu meletakkan jabatan. Namun kegagalan menjadi juara Piala AFF 2010 tidak membuat Nurdin berniat untuk mundur meski tekanan banyak menerpanya.
Di Piala AFF kali ini, munculnya desakan agar pria berjuluk "Sang Puang" itu untuk mengundurkan diri tak hanya terkait dengan prestasi namun juga ribet dan kisruh-nya sistem penjualan tiket pertandingan di Stadion Gelora Bung Karno yang membuat penonton kesulitan dan dirugikan.
Desakan agar reformasi PSSI direalisasikan terus mengalir. Ketika ditanya soal hal ini, Menpora Andi Mallarangeng menolak untuk berbicara lebih lanjut. "Kalau soal itu (reformasi PSSI), kita bicarakan saja lain kali, agar lebih komprehensif," kata Andi ketika dihubungi detiksport Rabu (29/12/2010) malam WIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar