Refleksikan 78 Tahun Persib
Koran SI
Foto: www.persib-bandung.or.id
BANDUNG - Persib Bandung memiliki magnet yang luar biasa terhadap kultur pecinta sepakbola Jawa Barat. 14 Maret nanti, salah satu ikon Jawa Barat berjuluk Maung Bandung ini genap menginjak 78 tahun. Dalam catatan penulis, sudah empat kompetisi domestik dimana diantaranya menjadi langganan juara.
Perjalanan panjang Persib tentu bisa terulang dalam rekaman visual maupun bukti otentik yang masih ada hingga saat ini. Artinya, sebuah monumen sepakbola yang dapat dijadikan acuan dan pembelajaran bagi kalangan generasi muda.
Momen tiga perempat abad Persib di kancah sepakbola nasional boleh jadi ukuran tim ini pantas untuk memiliki monumen semacam museum. Seperti halnya klub-klub Eropa yang mayoritas memiliki museum khusus di antara megahnya stadion.
Di Negeri Sakura, Jepang yang persepakbolaannya sudah sedemikian maju hanya dalam satu-dua dekade terakhir, justru memiliki monumen yang menyimpan berbagai arsip gambar dan video rekaman tentang persepakbolaan mereka sejak awal abad ke-20.
Keberadaan museum selain dijadikan ajang pembelajaran, juga dapat dijadikan ajang untuk menggiatkan kampanye sepakbola. Di Swiss misalnya, negara kecil, tapi maju pesat perkembangannya serius dalam menggarap monumen bersejarah sepakbola negerinya.
Ada rasa kebanggan tersendiri saat pernak-pernik warisan tim yang awalnya muncul dengan nama Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) ini terpajang lengkap dengan kisah perjalanannya. Suasana visual Persib saat menjuarai kompetisi. Bahkan, hingga suka-duka peliput Persib pantas saja mengisi monumen yang sudah diwacanakan pihak pengurus Persib ini.
Sekilas, ruang Wali Kota Bandung memang lebih mirip museum Persib. Tetapi, akses untuk mengenali lebih dalam tentu bukan hal yang tepat. Persib juga merupakan klub yang turut memajukan persepakbolaan nasional. Hal itu ditandai oleh bergabungnya pendiri, pengurus, pelatih hingga mantan pemain yang berkontribusi bagi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).
Oleh karena itu, membangun museum sebagai ruang publik sepakbola Jawa Barat sudah pantas untuk diwujudkan di saat Persib saat ini yang berstatus sebagai klub porfesional. Tantangan bagi pemilik serta pengurus klub untuk menjadikan museum tersebut menggiatkan kampanye sepakbola.
Dalam hal ini, ada ide serta filosofi yang tertuang. Ini sekaligus menunjukkan Persib ada di jalur yang benar. Barangkali, kita bisa "mencontek" monumen sepakbola di Eropa yang sukses karena kebijakan yang tepat serta dukungan penuh masyarakat, pemerintah serta otoritas sepakbola negaranya.
Dengan demikian, diharapkan muncul bobotoh atau orang yang mengaku cinta Persib yang ingin mencoba merefleksikan perjalanan Persib. Sebab, sisi lain adanya monumen kepada masyarakat bukan sekedar tempat menyimpan benda-benda bernilai sejarah.
Museum memiliki fungsi lain yakni berupa fungsi pendidikan. Museum yang hidup juga akan lahir dari tangan-tangan kreatif yang ingin kami memunculkan filosofi Persib ke tengah masyarakat dengan menggelar berbagai acara kedepannya. Semoga!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar